Unit usaha berbasis pesantren kini mulai melirik industri sepak bola profesional di Indonesia sebagai peluang baru untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Fenomena ini tercermin dari langkah Toserba Sunan Drajat, unit bisnis ritel milik Pondok Pesantren Sunan Drajat, yang resmi menjadi sponsor Persela Lamongan dalam mengarungi kompetisi Liga 2 musim ini.

Keterlibatan bisnis pesantren tersebut mengindikasikan adanya pergeseran strategi pendanaan bagi klub sepak bola daerah. Financial support kini tidak lagi berpatokan penuh pada korporasi swasta besar maupun investor asing, melainkan mulai mengoptimalkan potensi ekonomi domestik yang berakar pada komunitas keagamaan.

Dari Kuliah Umum ke Aksi Nyata, Sekjen PIKI Dorong Mahasiswa IAKN Toraja Berprestasi dan Mandiri
BACA JUGA
Dari Kuliah Umum ke Aksi Nyata, Sekjen PIKI Dorong Mahasiswa IAKN Toraja Berprestasi dan Mandiri Baca Selengkapnya

Langkah kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan finansial berbasis jaringan pesantren dapat bersinergi dengan industri olahraga. Selain memberikan suntikan modal bagi klub, kerja sama ini sekaligus memperluas jangkauan pasar bagi unit usaha daerah di kalangan penggemar olahraga.

Direktur Ekonomi Pondok Pesantren Sunan Drajat, Anas Al Hifni, mengutarakan alasan di balik keputusan finansial tersebut. Menurutnya, partisipasi bisnis pesantren dalam iklim sepak bola daerah terdorong oleh besarnya potensi serta loyalitas basis pendukung setia Persela Lamongan, yang dijuluki Laskar Joko Tingkir.

Sinergi strategis ini diharapkan dapat menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, Persela memperoleh kepastian dukungan dana dari entitas lokal, sementara bisnis pesantren mendapatkan panggung promosi yang efektif melalui basis massa suporter yang masif.